B. Syariat Tayammum

Syariat Tayammum

1. Dalil dari Qur’an, sunnah dan Ijmak

Ayat pertama:

✍Dalil Qur’an tentang Tayammum adalah Nisa’:43

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu hampiri sembahyang (mengerjakannya) sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu sedar dan mengetahui akan apa yang kamu katakan. Dan janganlah pula (hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan Junub (berhadas besar) – kecuali kamu hendak melintas sahaja – hingga kamu mandi bersuci. Dan jika kamu sakit, atau sedang dalam musafir, atau salah seorang di antara kamu datang dari tempat buang air, atau kamu bersentuh dengan perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air (untuk mandi atau berwuduk), maka hendaklah kamu bertayamum dengan tanah – debu, yang suci, iaitu sapukanlah ke muka kamu dan kedua tangan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, lagi Maha Pengampun.

Ayat kedua:

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”.
(QS. Al Maidah [5] : 6).

✍Adapun dalil dari As Sunnah adalah sabda Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّمَ dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu,

« وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ »

“Dijadikan bagi kami (ummat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi was sallam ) permukaan bumi sebagai thohur (sesuatu yang digunakan untuk bersuci (tayammum)) jika kami tidak menjumpai air”.
Riwayat Muslim no 522


 

2. Kelebihan kepada umat Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّمَ

Kelebihan boleh menggunakan Tayammum ini tidak diberikan kepada umat lain selain umat Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّمَ . Maknanya umat terdahulu kena cari air juga untuk mengangkat hadas mereka.

✍Adapun keistimewaan keistimewaan tersebut dijelaskan dalam hadits Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّمَ.

Dari Jabir bin Abdillah ra, dia berkata, Rasulullah saw bersabda : “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku, iaitu aku ditolong dengan ketakutan (yang menimpa musuh) yang berlangsung selam satu bulan, semua belahan bumi telah dijadikan untukku masjid dan suci, sehingga siapa saja dari umatku yang datang kepadanya waktu shalat, maka dapat langsung menunaikannya, dihalalkan kepada bagiku sejumlah binatang ternak yang tidak dihalalkan kepada seorang nabi sebelumku, aku dianugerahi syafaat, dan seorang nabi di masa lalu diutus kepada suatu kaum tertentu, sementara aku diutus kepada seluruh umat manusia.”
(HR. Muttafaq ‘alaih)


 

3. Sebab pensyariatan Tayammum

✍Bilakah Tayammum mula disyariatkan?

322 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِالْبَيْدَاءِ أَوْ بِذَاتِ الْجَيْشِ انْقَطَعَ عِقْدٌ لِي فَأَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْتِمَاسِهِ وَأَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ وَلَيْسُوا عَلَى مَاءٍ فَأَتَى النَّاسُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ فَقَالُوا أَلَا تَرَى مَا صَنَعَتْ عَائِشَةُ أَقَامَتْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسِ وَلَيْسُوا عَلَى مَاءٍ وَلَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاضِعٌ رَأْسَهُ عَلَى فَخِذِي قَدْ نَامَ فَقَالَ حَبَسْتِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسَ وَلَيْسُوا عَلَى مَاءٍ وَلَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ فَقَالَتْ عَائِشَةُ فَعَاتَبَنِي أَبُو بَكْرٍ وَقَالَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ وَجَعَلَ يَطْعُنُنِي بِيَدِهِ فِي خَاصِرَتِي فَلَا يَمْنَعُنِي مِنْ التَّحَرُّكِ إِلَّا مَكَانُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى فَخِذِي فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أَصْبَحَ عَلَى غَيْرِ مَاءٍ فَأَنْزَلَ اللَّهُ آيَةَ التَّيَمُّمِ فَتَيَمَّمُوا فَقَالَ أُسَيْدُ بْنُ الْحُضَيْرِ مَا هِيَ بِأَوَّلِ بَرَكَتِكُمْ يَا آلَ أَبِي بَكْرٍ قَالَتْ فَبَعَثْنَا الْبَعِيرَ الَّذِي كُنْتُ عَلَيْهِ فَأَصَبْنَا الْعِقْدَ تَحْتَهُ

322. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari ‘Abdurrahman bin Al Qasim dari bapaknya dari ‘Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu perjalanan yang dilakukannya. Hingga ketika kami sampai di Baida’, atau tempat peristirahatan pasukan, aku kehilangan kalungku. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti untuk mencarinya. Orang-orang lain juga berhenti untuk mencarinya. Mereka berhenti di tempat yang tiada air. Sahabat-sahabat lalu bertemu dengan Abu Bakar Ash Shidiq seraya berkata, ‘Nah lihat apa yang telah diperbuat oleh ‘Aisyah? Dia telah membuatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang berhenti di tempat yang tiada air dan mereka juga tidak memiliki bekalan air! ‘ Lalu Abu Bakar datang kepadaku sedangkan saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang tidur dengan meletakkan kepalanya di pahaku. Kata Abu Bakar: “Engkau telah membuatkan Rasulullah tertahan di sini dengan orang-orang lain. Mereka berhenti di tempat yang tiada air. Mereka juga tidak mempunyai air. Kata Aisyah: Abu Bakar mengataiku macam-macam sungutan terhadapku. Dia juga telah menusuk pinggangku dengan tangannya, dan tidak ada yang menghalangiku untuk bergerak (karena rasa sakit) kecuali kerana keberadaan kepala Rasulullah yang di pahaku.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun di waktu subuh dalam keadaan tidak ada air. Allah Ta’ala menurunkan ayat tayamum, maka orang-orang pun bertayamum.” Usaid bin Al Hudlair lalu berkata, “Ini bukan keberkatanmu yang pertama wahai keluarga Abu Bakar!” ‘Aisyah berkata, “Kemudian unta yang aku tunggangi berdiri yang ternyata kami temukan kalungku berada dibawahnya.”__

Sekarang mari kita lihat cara melakukan (kaifiat) Tayammum dengan ringkas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s